BREAKING NEWS

Berapa Lama Makanan Beracun Menyerang Anak?

Baru-baru ini, kasus keracunan makanan pada anak semakin sering terjadi di berbagai wilayah. Keracunan makanan diduga terjadi setelah mengonsumsi menu MBG di sekolah.

Keracunan terjadi ketika seseorang memakan atau minum makanan atau minuman yang telah tercemar oleh bakteri, virus, cacing, atau bahan beracun. Gejala umum keracunan makanan meliputi mual, muntah, diare, dan demam. Siapa saja dapat mengalaminya, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Meskipun umumnya bisa pulih secara alami, penting bagi Ibu untuk memahami pertolongan pertama terhadap keracunan makanan agar gejala tidak memburuk dan tubuh segera pulih.

Kemudian, berapa lama dampak keracunan makanan terjadi hingga tubuh bisa pulih sepenuhnya? Baca penjelasan lengkapnya di artikel berikut ini.

Apa itu keracunan makanan?

Melansir dari laman Healthline, keracunan makanan atau foodborne illnessmerupakan keadaan yang terjadi ketika seseorang memakan makanan yang tercemar, kadaluarsa, atau mengandung bahan beracun. Gejala yang paling umum muncul adalah mual, muntah, dan sakit perut.

Meskipun terasa sangat mengganggu, keracunan makanan adalah kondisi yang umum terjadi. Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), setiap tahun tercatat sekitar 48 juta kasus keracunan makanan di Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, sekitar 128 ribu orang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Penyebab keracunan makanan

Keracunan makanan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, Ibu. Mengutip halamanYale Medecine, sebagian besar kejadian keracunan makanan disebabkan oleh bakteri, cacing, virus, atau racun yang mengkontaminasi makanan dan minuman.

Kontaminasi ini dapat terjadi sejak tahap penanaman, pengolahan, hingga saat penyajian. Berikut beberapa faktor utamanya:

1. Bakteri

Bakteri merupakan penyebab paling umum dari keracunan makanan. Jenis-jenis yang sering ditemukan antara lainSalmonella, E. coli, Listeria monocytogenes, Campylobacter, dan Staphylococcus aureus.

2. Parasit

Meskipun kasusnya lebih jarang dibandingkan infeksi bakteri, parasit tetap menimbulkan ancaman. Beberapa jenis yang sering ditemukan antara lainToxoplasma gondii, cacing pita yang terdapat dalam daging sapi atau babi, sertaGiardia.

3. Virus

Beberapa jenis virus dapat memicu keracunan makanan, antara lain norovirus, rotavirus, astrovirus, sapovirus, serta hepatitis A. Norovirus menjadi penyebab lebih dari setengah kasus penyakit akibat makanan di Amerika Serikat, dengan gejala utama berupa muntah dan diare.

4. Kontaminasi yang terjadi selama proses pengolahan dan penyajian

Makanan dapat tercemar mulai dari kebun atau lahan pertanian karena kotoran hewan, kemudian terus berlanjut selama proses panen, distribusi, hingga pengolahan di dapur. Contohnya, buah melon yang telah dipotong bisa menjadi tempat tumbuhnya bakteri sepertiListeriajika tidak segera dimakan dalam waktu singkat.

Selain itu, keracunan makanan juga dapat berasal dari racun atau zat kimia. Dilaporkan dariCleveland Clinic, Dr. Lee menjelaskan bahwa keracunan dapat terjadi meskipun makanan terlihat segar atau tidak berbau busuk.

Penyebabnya mungkin disebabkan oleh cara pengolahan yang tidak bersih atau metode memasak yang tidak tepat, sehingga makanan yang seharusnya aman menjadi berisiko.

6 Gejala keracunan makanan

Gejala keracunan makanan biasanya muncul secara tiba-tiba dan bisa mengganggu hingga tubuh berhasil mengusir kuman penyebabnya. Gejala yang terjadi dapat bervariasi pada setiap individu, namun umumnya mencakup:

  1. Diare
  2. Mual dan muntah
  3. Sakit Perut dan kram
  4. Demam
  5. Sakit kepala
  6. Lemas atau tidak bertenaga

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk keracunan makanan terjadi?

Pada kebanyakan orang yang sehat, gejala keracunan makanan biasanya menghilang dalam waktu 12 hingga 48 jam. Selama periode ini, tubuh umumnya dapat mengatasi infeksi yang masuk melalui makanan atau minuman.

Namun, durasi penyakit dapat bervariasi antar individu. Dr. Lee mengatakan, "Tergantung jenis patogen dan cara tubuh meresponsnya, ada orang yang bisa mengalami keracunan makanan hingga 10 hari atau lebih. Bakteri seperti campylobacter dapat menyebabkan gejala selama beberapa minggu."

Apa yang perlu dilakukan ketika mengalami keracunan makanan?

Dr. Lee menjelaskan bahwa kebanyakan kasus keracunan makanan memang menyebabkan ketidaknyamanan pada tubuh, tetapi biasanya akan pulih tanpa perlunya perawatan khusus dari dokter, terutama bagi individu yang memiliki sistem imun yang kuat.

"Bagi sebagian besar orang yang memiliki sistem imun kuat, keracunan makanan biasanya akan pulih secara alami. Selama masih mampu menelan makanan atau minuman, cukup tingkatkan asupan cairan di rumah dan biarkan tubuh melakukan proses pemulihan sendiri," kata Dr. Lee.

Namun, terdapat beberapa langkah yang perlu diambil jika mengalami keracunan makanan, yaitu:

1. Perbanyak minum cairan

Poin terpenting dalam menghadapi keracunan makanan adalah mencegah dehidrasi yang disebabkan oleh muntah dan diare. Konsumsi cairan secara cukup, bukan hanya air putih saja, tetapi juga minuman yang mengandung garam, gula, atau elektrolit.

Dr. Lee menambahkan, "Ketika sakit dan kehilangan banyak cairan, cairan yang mengandung elektrolit lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan air biasa."

2. Minum secara perlahan

Jangan mengonsumsi air dalam jumlah besar secara sekaligus. Lebih baik minum dengan teguk kecil agar tidak menyebabkan perut terasa mual dan penuh.

3. Konsumsi makanan ringan

Jika sudah mulai merasa lebih baik, coba makanan ringan yang mudah dicerna, seperti pisang, nasi, roti, sup, bubur, kentang rebus, atau biskuit. Hindari makanan yang berminyak, pedas, atau terlalu berat.

Apakah keracunan makanan dapat menyebabkan kematian?

Keracunan makanan biasanya dapat pulih dalam waktu singkat, namun pada beberapa kondisi tertentu dapat menimbulkan dampak yang berbahaya. Risiko ini cenderung lebih besar pada bayi, lansia, ibu hamil, atau individu yang mengidap penyakit kronis seperti gangguan jantung dan ginjal.

Dokter UGD di University of Utah Health, dr. Troy Madsen, menyampaikan bahwa sebagian orang akan pulih. Namun, jika mengalami dehidrasi yang berat dapat menimbulkan risiko.

"Jika tubuh kehilangan banyak cairan akibat muntah atau diare, dan pasien memiliki kondisi kesehatan lain, keracunan makanan bisa menjadi lebih berisiko," kata Dr. Troy.

Apakah keracunan makanan bisa pulih secara alami?

Sebagian besar kasus keracunan makanan bisa pulih secara alami tanpa memerlukan pengobatan khusus. Dr. Madsen menjelaskan bahwa, bagi individu yang memiliki kondisi tubuh yang baik, gejalanya biasanya berlangsung selama 6 hingga 12 jam, lalu perlahan membaik.

Cara mencegah keracunan makanan

Ada empat metode untuk menghindari keracunan makanan, antara lain:

  • Cuci tangan secara teratur sebelum dan setelah menyiapkan makanan
  • Pisahkan bahan mentah seperti daging, ayam, makanan laut, dan telur dari makanan yang sudah matang, termasuk saat berbelanja dan menyimpannya di dalam kulkas.
  • Masukkan makanan ke dalam wajan dengan suhu yang sesuai, seperti 63°C untuk ikan, 71°C untuk daging cincang, dan 74°C untuk ayam serta sisa makanan.
  • Kurangi suhu makanan secepat mungkin, simpan dalam kulkas maksimal dua jam setelah dimasak (atau satu jam jika berada di lingkungan panas)

Pencegahan juga bisa dilakukan dengan memperhatikan metode pengolahan, penyimpanan, serta pemilihan makanan. Pilih tempat makan yang bersih dan hindari mengonsumsi makanan yang belum matang.

Cara mengatasi keracunan makanan

Sebagian besar kasus keracunan makanan bisa diatasi sendiri di rumah tanpa memerlukan perawatan khusus. Berikut beberapa cara untuk mengatasi keracunan makanan yang telah dirangkum dari lamanNHS:

  • Istirahat yang memadai di rumah sehingga tubuh dapat pulih secara maksimal.
  • Minumlah air putih secara cukup agar terhindar dari dehidrasi. Jika merasa mual, konsumsi air dalam porsi kecil namun lebih sering.
  • Terus berikan ASI atau susu formula kepada bayi. Jika bayi muntah, berikan dalam porsi yang lebih kecil.
  • Untuk bayi yang sudah mulai mengonsumsi makanan padat, berikan air putih di antara waktu makan.
  • Makan ketika merasa mampu, dan lebih baik menghindari makanan yang berlemak atau terlalu pedas selama masa pemulihan.
  • Konsumsi parasetamol bila merasa tidak nyaman, tetapi harus sesuai dengan dosis yang disarankan.

Selain metode mengatasi keracunan makanan, terdapat beberapa hal yang sebaiknya dihindari, yaitu:

  • Hindari mengonsumsi minuman berupa jus buah dan minuman bersoda karena bisa memperburuk kondisi diare.
  • Jangan mencampurkan susu formula dengan air dalam jumlah yang melebihi takaran biasa. Ikuti petunjuk penggunaan yang biasa.
  • Jangan berikan obat penghenti diare kepada anak yang belum berusia 12 tahun.
  • Jangan berikan obat aspirin kepada anak yang berusia kurang dari 16 tahun.

Dengan perawatan yang benar, beberapa orang bisa pulih dari keracunan makanan tanpa mengalami masalah serius. Namun, jika gejala tidak membaik, segera hubungi dokter.

Pilihan Redaksi
  • Daftar Kemungkinan Penyebab Ratusan Siswa Keracunan MBG
  • Kenali Tanda-Tanda Keracunan Makanan dan Cara Mengatasi Masalah Ini pada Anak
  • IDAI Mengkritik Kasus Anak Keracunan MBG, Tekankan 5 Hal Berikut

Untuk Ibu-ibu yang ingin berbagi tentang pengasuhan anak dan mendapatkan banyak hadiah, ayo bergabung dengan komunitas Squad. Daftar dengan klik diSINI. Gratis!

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image