Kecelakaan Kapal Berulang, MTI Minta Audit Sistem Pelayaran Nasional

Kecelakaan Laut di Indonesia Terus Berulang
Kecelakaan laut yang terjadi di Indonesia semakin sering terjadi, termasuk peristiwa terbakarnya kapal motor atau KM Barcelona V-A di perairan Minahasa, Sulawesi Utara. Peristiwa ini menambah daftar panjang kecelakaan transportasi laut yang terjadi di negara ini dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menunjukkan bahwa lebih dari 190 kecelakaan laut besar terjadi antara tahun 2015 hingga 2025, dengan jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 787 orang.
Ketua Forum Transportasi Maritim Masyarakat Transportasi Indonesia, Hafida Fahmiasari, menyatakan bahwa kecelakaan-kecelakaan ini menjadi alarm keras atas kegagalan sistem keselamatan pelayaran nasional. Menurutnya, tragedi seperti ini terus berulang karena sistem tidak belajar dari kejadian sebelumnya dan tidak ada efek jera bagi pelanggar keselamatan. Hal ini disampaikan Hafida dalam keterangannya pada Rabu, 23 Juli 2025.
Dalam sebulan terakhir, tercatat sedikitnya tiga insiden kecelakaan transportasi laut di Indonesia. Pertama, Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali pada Kamis, 3 Juli 2025 dini hari. Kapal tersebut membawa 53 penumpang dan 12 kru, dan seluruh penumpang dilaporkan hilang. Kedua, sebuah kapal cepat yang membawa 18 penumpang, sebagian besar pegawai Pemkab Mentawai dan satu anggota DPRD, terbalik di perairan Selat Sipora setelah dihantam cuaca buruk pada Senin, 14 Juli 2025. Ketiga, KM Barcelona V-A tiba-tiba terbakar di Perairan Talise, Kabupaten Minahasa Utara, pada Minggu, 20 Juli 2025. Kapal ini membawa 280 penumpang, dengan tiga korban jiwa akibat insiden tersebut.
Hafida menyoroti bahwa masalah utama bukanlah kurangnya regulasi, tetapi pada implementasi di lapangan dan akuntabilitas. Ia menegaskan bahwa sistem keselamatan harus diperkuat melalui penerapan aturan secara ketat dan peningkatan pengawasan.
Kebutuhan Sinergi dalam Keselamatan Transportasi Laut
Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia, Tory Damantoro, menekankan pentingnya sinergi antar komponen dalam menjaga keselamatan transportasi laut. Menurutnya, keselamatan akan berhasil jika semua pihak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Ia menyoroti pola berulang dalam kasus-kasus kecelakaan laut, termasuk kondisi kapal tua, kelebihan muatan, manifes yang tidak akurat, minimnya alat keselamatan, serta lemahnya pengawasan di titik keberangkatan.
Tory meminta pemerintah untuk melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh armada kapal penumpang, terutama kapal tua. Selain itu, ia menyarankan digitalisasi manifes dan pelacakan kapal secara real-time. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dan sertifikasi awak kapal, serta penegakan sanksi tegas terhadap pelanggaran keselamatan. "Peningkatan kelayakan sarana untuk berlayar harus menjadi prioritas," ujarnya.
Selain itu, Tory mengusulkan agar pemerintah mereformasi tarif dan subsidi agar operator mampu memenuhi standar keselamatan tanpa mengorbankan layanan publik. Ia juga menyarankan pembentukan sistem penguatan dan pemeliharaan kapasitas SDM, mengingat banyak regulasi yang belum dilaksanakan. "Konektivitas laut yang berkeselamatan adalah instrumen penting untuk merekatkan kesatuan negara kepulauan seperti Indonesia," katanya.